Kajian Q.S. Ar-rahman/55:33 dan Hadis tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kajian Q.S. Ar-rahman/55:33
dan Hadis tentang 
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


A. Q.S. Ar-Rahman/55: 33 tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

        Al-Qur'an mengandung berbagai tema, di antaranya mengenai ilmu pengetahuan. Salah satu ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan adalah Q.S. Ar-rahman/55: 33 yang mendorong manusia untuk bersemangat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ - ٣٣

1. Asbabun Nuzul 

        Tidak ada sebab khusus bagi latar belakang turunnya ayat ke-33 dari Q.S. Ar-rahman ini. Terkait sejarah turunnya Q.S. Ar-rahman secara umum, Al-Hasan, Urwah, Ibnu Zubair, Atha', dan Jabir berpendapat bahwa surat ini turun di Mekah. Adapun menurut Ibnu Mas'ud dan Mutaqil, surat ini turun di Madinah. 

2. Terjemah

        "Wahai segenap bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah)." (Q.S. Ar-Rahman/55: 33).

3. Penjelasan Ayat

        Dr. Wahbah Zuhaily dalam Tafsir al-Munir Jilid 14 menjelaskan tentang Q.S. Ar-Rahman/55: 33. Maksud dari "menerobos atau menembus penjuru langit dan bumi" adalah berlari untuk menghindari ketetapan (qada dan qadar) Allah Swt. Ayat ini memiliki makna bahwa jin dan manusia tidak akan mampu melepaskan diri dari segala ketetapan Allah Swt. dan kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, kecuali kekuatan dari Allah Swt. Sehingga itu adalah hal yang mustahil. Adapun kata al-ma'syar dalam ayat ini didefinisikan sebgaai golongan besar atau bilangan banyak yang hanya bisa bertambah jika ditambah dengan bilangan yang lain.

        At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata "in-istata'tum an tanfuzu," yang maksudnya adalah "jika kalian mampu menembus langit dan bumi, maka lakukanlah, tetapi kalian tidak akan mampu melakukan hal tersebut, kecuali dengan kekuatan (sullthan)." (Tafsir at-Thabari, Jilid 7, hal 186). Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa manusia dan jin diberi kebebasan untuk melintasi alam ini sebagai wujud kasih sayang Allah Swt. Manusia dan jin diperbolehkan menggunakan segenap kemampuannya, baik tenaga maupun pikirannya, untuk menjelajah alam semesta. Meski demikian, Allah Swt. memeberi peringatan bahwa kekuatan atau kemampuan yang dimiliki oleh manusia dan jin sangat terbatas.

4. Isi dan Kandungan Ayat

        Dalam Q.S. Ar-Rahman/55: 33 terdapat beberapa kandungan yang dapat kita pahami, antara lain sebagai berikut.

  1. Seruan kepada jin dan manusia dari Allah Swt. yang membebaskan mereka untuk menembus atau melintasi langit dengan kemampuan mereka sebagai kasih sayang Allah Swt.;
  2. Baik jin maupun manusia tidak dapat menghindar dari qada dan qadar Allah Swt. juga dari kekuasaan-nya;
  3. Baik jin maupun manusia juga tidak akan dapat menghindar dari tanggung jawab atas segala amal yang dilakukan selama di dunia;
  4. Adanya kemungkinan bagi manusia untuk mengeksplorasi luar angkasa dengan sulthan (kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi kemampuan itu terbatas;
  5. Mendorong manusia untuk menuntut ilmu serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi;
  6. Kekuatan yang dimiliki manusia adalah karunia Allah Swt.

5. Perilaku yang Mencerminkan Kandungan Q.S. Ar-Rahman/55: 33

        Adapun contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mencerminkan kandungan Q.S. Ar-Rahman/55: 33, antara lain sebagai berikut.

  1. Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas segala bentuk dan jenis kenikmatan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia (juga kepada jin);
  2. Senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu dan melakukan penelitian terhadap alam raya yang terhampar;
  3. Menyadari akan keterbatasan kemampuan manusia dalam mengarungi alam raya di hadapan kekuasaan Allah Swt;
  4. Berupaya istiqamah dalam ketaatan kepada Allah Swt. dan rela menerima semua ketetapan/Takdir-Nya;
  5. Selalu memohon kepada Allah Swt. agar diberikan ketetapan iman dan islam hingga akhir hayat.

B. Hadis tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

        Hadis merupakan sumber hukum kedua bagi umat islam sekaligus menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan. Apa yang ada dalam hadis sejalan dengan yang ada di dalam Al-Qur'an sebagai pedoman utama bagi umat Islam. Berikut contoh hadis yang terkait dengan kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.


عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ لَقِيتُ شَبِيبَ بْنَ شَيْبَةَ فَحَدَّثَنِي بِهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَعْنِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ

1. Terjemah Hadis

        Dari Katsir bin Qais ia berkata, "Aku pernah duduk bersama Abu Darda di Masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, "Wahai Abu Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kata Rasulullah Saw., karena sebuah hadis yang sampai kepadaku, bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah Saw. Tidaklah aku datang kecuali untuk itu." Abu Darda lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Barang siapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai tanda kerelaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan. yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." (H.R. Abu Daud) 

2. Isi dan Kandungan Hadis

        Dalam hadis tersebut terdapat beberapa kandungan, antara lain sebagai berikut.

  1. Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Rasulullah Saw. memberi jaminan bagi penuntut ilmu menuju surga, merupakan jalan mulia, dan bagian dari Ilmu yang tinggi jihad sehingga orang yang wafat saat menuntut ilmu termasuk ke dalam golongan orang syahid.
  2. Para malaikat senang terhadap orang-orang yang gigih dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan. 
  3. Seluruh makhluk yang berada di bumi dan di langit akan memohonkan ampunan, doa ini dikhususkan bagi orang-orang yang giat dan bersemangat untuk menuntut ilmu. 
  4. "Ibarat bulan purnama yang bersinar di antara bintang-bintang", itulah perumpamaan perbandingan seorang alim dengan seorang ahli ibadah. 
  5. Ulama merupakan pewaris para nabi, sehingga manusia tetap berada di jalur yang benar di jalan Allah Swt. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang mengikuti jejak para nabi dan rasul dengan cara giat menimba ilmu dari para ulama.

3. Sikap dan Perilaku yang Mencerminkan Hadis tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

        Adapun sikap dan perilaku yang mencerminkan kandungan hadis ilmu pengetahuan dan teknologi, antara lain sebagai berikut.

  1. Bersemangat untuk mencari ilmu tanpa mengenal batas usia karena meyakini bahwa mencari ilmu merupakan wujud perjuangan di jalan Allah Swt. 
  2. Tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga bersemangat dalam mengamalkannya. Kebangkitan umat Islam tidak diraih hanya dengan tekun beribadah, tetapi juga dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang disatupadukan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. 
  3. Selalu berupaya menambah ilmu pengetahuan agar mampu menyesuaikan diri seiring dengan berkembangnya zaman. 
  4. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari- hari, termasuk berbagi pengetahuan kepada orang lain sehingga melahirkan kebaikan dan terasa manfaatnya. 
  5. Selalu rendah hati dan merasa masih banyak yang belum diketahui agar terhindar dari sikap takabur dan membanggakan diri dengan ilmu yang dimiliki. Kemampuan dan kecerdasan manusia ada batasannya.

C. Meyakini bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah Perintah Agama

        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ilmu pengetahuan artinya 'gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan sistematis dengan memperhitungkan sebab akibat Adapun teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu terapan, atau keseluruhan sarana bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia tentang alam empiris yang tersusun secara logis dan sistematis, sedangkan teknologi adalah penerapan dari ilmu pengetahuan tersebut.

        Islam adalah agama yang memerintahkan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya teks-teks dalil, baik yang bersumber Al-Qur'an maupun hadis tentang hal tersebut. Konteks dalilnya pun beraneka ragam. Ada yang sifatnya menganjurkan, ada juga yang menyebutkan keutamaan- keutamaan ilmu dan menuntut ilmu, serta celaan terhadap orang-orang yang tidak berilmu. Seperti yang dijelaskan Q.S. At-Taubah/9: 122 yang artinya: "Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?"

        Begitu juga dalam Q.S. Al-Mujadalah/58: 11 yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," lapangkanlah, niscaya akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, "Berdirilah, "(kamu) berdirilah, Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." Melalui nash tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap mukmin memiliki tiga kewajiban terkait ilmu, yaitu (1) menuntut ilmu, (2) mengamalkannya, dan (3) mengajarkannya kepada orang lain. Jadi, menuntut ilmu merupakan perintah agama dan perlu digarisbawahi bahwa tujuan menuntut ilmu bukan untuk kepuasan dan kesenangan jasmani semata, melainkan untuk mencari keridaan Allah Swt., serta melindungi totalitas sisi kemanusiaan, saat berhubungan dengan semesta alam. Hukum menuntut ilmu itu terbagi dua, yaitu: 

  1. Fardu 'ain, yaitu menuntut ilmu yang sifatnya wajib bagi semua orang yang beriman, misalnya yang terkait dengan masalah agama. 
  2. Fardu kifayah, yaitu ilmu-ilmu yang harus ada di kalangan umat Islam, misalnya ilmu yang terkait dengan masalah duniawi.

        Secara bahasa, kata ilmu bertentangan dengan kata bodoh atau jahil. Adapun secara istilah, ilmu memiliki makna sesuatu yang dengannya akan terungkap segala kenyataan atau kebenaran yang sempurna. Jika dikaitkan dengan menuntut ilmu, pengertiannya yaitu upaya untuk berperilaku lebih baik karena ilmu dapat membawa seseorang pada kebenaran dan menjauhkannya dari kebodohan. Islam sangat mengagungkan ilmu karena semua ajarannya didasarkan pada ilmu. Misalnya dalam pelaksanaan salat, orang yang salat harus tahu ilmu tentang salat yang meliputi arti, syarat, rukun, sunah, dan larangannya. Begitu juga, ibadah lainnya, baik yang mahdah maupun gairu mahdah. Semuanya dikaitkan dengan ilmu. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi dan implementasi dari mencintai adalah berjuang untuk mencari dan menuntut ilmu. Adapun pentingnya menuntut ilmu, antara lain: 

  1. bernilai ibadah; 
  2. termasuk wujud perjuangan di jalan Allah Swt. karena menghadapi musuh yang tidak diinginkan berupa kebodohan dan keterbelakangan:
  3. mengantarkan pada derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. dan manusia;
  4. merupakan syarat amalan seorang muslim diterima: 
  5. mendapat pahala yang besar atas kebermanfaatan ilmu:
  6. mendapat doa dari semua makhluk, yang ada di langit maupun bumi:
  7. memudahkan terbukanya jalan menuju surga.

D. Membiasakan Diri Bersikap Adaptif terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan

        Wahyu yang pertama turun adalah QS. Al-Alaq/96: 1-5, diawali kata iqra yang maknanya bukan hanya membaca, tetapi juga mengkaji, meneliti, mendalami, menganalisis yang terkait dengan menimba ilmu. Pada masa awal Islam, sejarah mengisahkan bahwa apabila ada tawanan perang yang memiliki kemampuan baca tulis, cara fupa pembebasannya dengan mengajarkan umat Islam tentang baca tulis (literasi). Hal tersebut, menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, memiliki perhatian tentang ilmu, dan tidak heran jika selama 7 abad pertama, umat Islam tampil sebagai perintis dan pengembang IPTEK, sehingga mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia. Ditandai lahirnya para cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Haitham, Abbas bin Firnas, Al-Jazari, dan sebagainya.

        Ada kaidah yang harus dibiasakan oleh setiap pencari ilmu sebagai bentuk sikap adaptif terhadap IPTEK. Bagi para pencari ilmu. tentunya tidak asing dengan syair Imam Syafi'i: "Saudaraku, kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas: kecerdasan, ketamakan dalam ilmu, kesungguhan, harta benda, menghormati guru, dan waktu yang panjang." Pelajaran yang dapat diambil dari nasihat Imam Syafi'i tersebut, antara lain sebagai berikut. 

  1. Kecerdasan yang diupayakan, seperti menyimak materi, membaca, mencatat, berdiskusi, dan mengulang-ngulang materi tersebut. 
  2. Ketamakan dalam ilmu artinya memiliki semangat yang tinggi dan antusias dalam menuntut ilmu. 
  3. Kesungguhan, maksudnya jangan mengikuti hawa nafsu yang berbentuk kemalasan, rasa lelah, dan bosan. Ingatlah kata bijak man jadda wa jadda yang artinya siapa yang bersungguh pasti akan berhasil. 
  4. Mencari ilmu memerlukan bekal sebagai biaya. Jangan ada rasa sayang dengan harta bila terkait dengan ilmu. Contohnya untuk membeli buku dan membayar kursus.
  5. Menghormati guru. Keberadaan guru sebagai pembimbing sangat diperlukan bagi para pencari ilmu walaupun di era informasi digital ilmu dapat dengan mudah diakses. 
  6. Waktu yang panjang berarti bahwa dalam menuntut ilmu memerlukan jangka waktu, tidak bisa instan. Perlu ketekunan dan kesabaran selama proses menuntut ilmu.

Rangkuman

  1. Ada QS. Ar-Rahman/55: 33 mengajak manusia untuk mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bermanfaat untuk tatanan dunia. 
  2. Allah Swt. menjelaskan melalui Q.S. Ar-Rahman/55: 33 dan hadis terkait bahwa manusia dan jin diberi kemampuan untuk menembus langit bumi dengan syarat tertentu. 
  3. Secara bahasa, kata ilmu bertentangan dengan kata bodoh atau jahil. Adapun secara istilah, ilmu memiliki makna sesuatu yang dengannya akan terungkap segala kenyataan atau kebenaran yang sempurna. Berdasarkan pengertian ini, umat Islam sangat ditekankan agar menguasai ilmu yang sedalam-dalamnya sehingga lahir beragam pakar atau ahli di segala bidang. 
  4. Menuntut ilmu adalah upaya untuk berperilaku lebih baik karena ilmu dapat membawa seseorang pada kebenaran dan menjauhkannya dari kebodohan.
  5. Kemiskinan timbul dari kebodohan dan kebodohan mengakibatkan keterbelakangan pada banyak aspek kehidupan. Oleh karena itu, usahakan hidup sampai taraf berkecukupan.
  6. Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap umat Islam. Rasulullah Saw. menjamin surga bagi orang yang menuntut ilmu. 
  7. Pentingnya menuntut ilmu: 
  • bernilai ibadah; 
  • termasuk wujud perjuangan di jalan Allah Swt. karena menghadapi musuh yang tidak diinginkan berupa kebodohan dan keterbelakangan; 
  • mengantarkan pada derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. dan manusia;
  • merupakan syarat amalan seorang muslim diterima; 
  • mendapat pahala yang besar atas kebermanfaatan ilmu; 
  • mendapat doa dari semua makhluk, yang ada di langit maupun bumi;
  • memudahkan terbukanya jalan menuju surga.







Komentar